Tampilkan postingan dengan label crito. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label crito. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Juni 2009

neraka


Sebelum mengenal cerita tentang surga, saya sudah mendengar ikhwal neraka. Saat berumur enam tahun, saya menyimak seorang guru ngaji bertutur cerita kepada para santrinya soal Hari Pembalasan. Neraka, kata sang guru, adalah tempat bagi manusia untuk menebus segala kesalahannya saat hidup di dunia. Sementara sorga adalah balasan bagi amal baik manusia. Di hari pembalasan, tiap orang akan ditimbang amalnya. Bila condong ke kanan, ia akan dimasukkan ke sorga. Sebaliknya, jika doyong ke kiri, ia akan dijebloskan ke neraka.

Dalam kobaran api yang panasnya sungguh tak terbandingkan, cerita sang guru dengan khidmat, tiap orang dihukum sesuai perbuatan buruknya. Para pencuri akan dipotong tangannya, lalu tangan itu kembali utuh hanya untuk ditebas kembali. Begitu seterusnya tanpa kesudahan. Sementara para pezina akan dipotong alat kelaminnya bagi yang lelaki, dan ditusuk besi runcing nan merah membara untuk yang perempuan. Juga ini berlangsung terus-menerus dalam kurun waktu yang entah sampai kapan. Para pembohong dan munafik akan dipotong lidahnya kemudian diguyur cairan timah panas persis di batok kepalanya hingga luruhlah semua daging tubuhnya dari ujung kepala hingga ujung kaki dan tinggal menyisakan belulang. Ini pun berlangsung tanpa kesudahan di tengah-tengah jilatan sang api abadi. Sementara mereka yang gemar memakan barang haram akan dilemparkan ke dalam sungai nanah sembari dijaga sebuah cemeti yang siap melecut untuk menenggelamkan mereka kembali pabila ada yang berusaha menepi dan mentas. Dan ini pun berlangsung dalam kurun waktu yang tak terhitung lamanya. Neraka itu, masih dalam cerita sang guru, juga dihuni binatang-binatang buas macam kalajengking dan ular berbisa yang siap-sedia meneror tiap orang yang dijebloskan ke sana.

Betapa mengerikan bahkan untuk sekedar dibayangkan!

Belakangan hari, saat duduk di bangku kelas dua SD, saya mendapati buku stensilan lusuh di lemari bibiku. Judulnya tak lain adalah Siksa Neraka. Isi ceritanya kurang lebih sama dengan yang pertama kali saya dapati dari guru ngajiku. Hanya di sana dilengkapi ilustrasi agar lebih jelas bagi pembaca dalam menangkap paparan ceritanya. Saya pun makin begidik saat membaca dan menghayati tiap-tiap gambar yang ada di dalamnya. Berhari-hari lamanya pikiran saya tenggelam membayangkan betapa mengerikannya siksa neraka. Sejak saat itu saya pun, meski masih amat belia untuk berpikir banyak soal agama, dilanda ketakutan akut. Alih-alih membayangkan tuhan sebagai sosok yang pengasih dan penyayang bak seorang ibu, saya justru menghayati tuhan sebagai sosok patriark yang kejam dan semena-mena persis sang maharaja lalim.

James Joyce, novelis kenamaan Irlandia, turut menggambarkan siksa neraka dalam novel semi-otobiografisnya, A Portrait of the Artist as a Young Man. Di sana Joyce menggunakan bahasa yang seakan-akan hendak ditujukan untuk meneror pembacanya. Berikut saya petilkan sebagian:

Siksaan terakhir yang paling dahsyat dari segala siksaan di tempat yang mengerikan itu adalah keabadian neraka! Oh, sungguh kata yang mengerikan dan menakutkan. Keabadian! Pikiran manusia yang seperti apa yang dapat memahami ini semua? Meskipun rasa sakit di neraka dulu tidaklah begitu mengerikan jika dibandingkan dengan sekarang, tetapi rasa sakit akan benar-benar nyata saat siksaan itu ditakdirkan untuk berlangsung selamanya. Tetapi, di samping rasa sakit itu tiada pernah berhenti, pada saat itu juga, sebagaimana kalian ketahui, rasanya sangat kuat dan tak dapat ditanggulangi, terus bertambah hingga tak tertanggungkan. Menanggung rasa sakit karena sengatan serangga selama-lamanya saja sudah bisa menjadi siksaan yang mengerikan. Lalu bagaimana rasanya jika harus menerima siksaan yang berlipat-lipat sakitnya di neraka selamanya? Selamanya! Tidak setahun atau seabad, tapi selamanya. Coba bayangkan arti ucapan mengerikan ini. Kalian sering kali melihat pantai. Betapa bagusnya butir-butir pasir itu! Dan betapa banyak butir pasir yang dibutuhkan untuk menjadi segenggam pasir yang diambil anak kecil saat bermain. Kini, bayangkan segunung pasir satu juta mil tingginya, menjulang dari bumi hingga ke langit yang terjauh, dan satu juta mil lebarnya, membentang dari ruang yang terpencil, dan satu juta mil tebalnya: bayangkan gundukan besar partikel pasir yang tak terhitung jumlahnya dilipatgandakan dengan jumlah daun yang ada di hutan, tetes air di samudera luas, bulu-bulu pada burung, sisik-sisik pada ikan, bulu-bulu pada binatang, atom di udara bebas: dan bayangkan pada akhir setiap satu juta tahun seekor burung kecil datang ke gunung itu dan membawa pergi sebutr pasir dari sana dengan paruhnya. Berapa juta abad yang dibutuhkan burung itu untuk memindahkan, bahkan cuma satu kaki persegi pasir dari gunung itu, berapa banyak eon abad untuk memindahkan seluruh gunung itu. Namun pada akhir rentang tahun yang sangat panjang itu kita masih belum bisa menyebutnya sepersekian kejap dari keabadian. Saat berbilyun-bilyun dan bertrilyun-trilyun tahun itu telah berakhir, kita tahu bahwa itu masih belum dikatakan sebagai awal keabadian. Dan jika gunung itu muncul dan tenggelam sesering terbit dan tenggelamnya bintang di langit, atom di udara, tetes air di lautan, daun di pepohonan, bulu pada burung, sisik pada ikan, rambut pada binatang, pada akhir setiap kemunculan dan kesirnaan gunung yang luasnya tak terukur itu tak bisa dikatakan sekejap dari keabadian telah berakhir, bahkan pada saat itu, pada akhir setiap masa sepanjang itu, setelah eon waktu yang bisa membuat kita pusing meski hanya memikirkannya saja, kita belum bisa mengatakan bahwa keabadian telah dimulai!”

Siksa nan abadi – betapa mengerikannya bahkan untuk sekedar dibayangkan!
Sementara saya mendapati uraian panjang kisah neraka, cerita ikhwal sorga yang saya dengar tak lebih dari “negeri yang mengalir sungai-sungai di bawahnya dan dihuni para bidadari yang selalu dalam keadaan suci”. Betapa terasa banal dan binal imajinasi para patriark dalam menggubah kisah sorga tersebut.

Kini saya berpikir, apa gunanya agama turut menyertakan “ancaman” siksa neraka dan “iming-iming” kehidupan surga dalam paket ajarannya di dalam kitab suci. Banyak orang yang pada akhirnya membaca kisah-kisah itu secara harfiah. Dan tak sedikit pula dari mereka yang kemudian menjadi picik pikirannya sehingga terjebak dalam militansi dan fanatisme buta dogma agama. Dalam hal ini, fundamentalisme tumbuh subur dalam tiga agama Ibrahimiyah yang memang mendendangkan syair surga dan neraka dalam kredo-kredonya.

Mungkinkah manusia kelewat bengal dan bebal untuk diajar dengan kebijaksanaan, sehingga para nabi mesti menggubah kisah surga dan neraka untuk memberadabkan hidup? Tapi bila itu alasannya, alangkah absurd dan lancutnya ia karena betapa pun kisah itu kemudian diimani orang ramai, manusia tetap saja bebal, bengal, dan jagal...[]
maret 2009

gio

Sejak kecil saya sering melihatnya di pasar desa. Ia lelaki malang yang terlahir dengan penglihatan yang sama sekali tak berfungsi, dan orang-orang di pasar juga menyebutnya “wong gendeng” (orang gila) karena akalnya yang kurang waras. Namanya Gio. Usianya terpaut beberapa tahun saja di atas saya.

Tiap pagi ia datang ke pasar dengan pakaian yang lusuh dan compang-camping, lantas berkeliling dari satu ruko ke ruko lain, meminta sekedar uang seratus rupiah kepada para pedagang. Anehnya, meski dua matanya buta, ia selalu bisa mengenali uang logam yang diberikan kepadanya. Ia selalu menampik bila diberi uang yang bukan uang logam seratusan rupiah. Agak komikal mungkin kedengarannya, seperti halnya kisah Stevie Wonder yang juga seorang tunanetra. Suatu hari Stevie diperintahkan oleh gurunya untuk membantu kawan-kawannya yang tidak buta menangkap seekor tikus yang masuk ke ruang kelas. Dan siapa menyangka, Stevie-lah yang justru dapat menangkapnya, bukan kawan-kawannya yang berpenglihatan normal. Barangkali alam memang selalu memberikan kompensasi kepada orang-orang yang terlahir dengan tubuh tak sempurna seperti Gio dan Stevie.

Saat kecil dulu saya memang kerap diajak nenek berjualan di pasar. Nenek sendiri punya sebuah ruko yang terletak tak jauh dari pintu masuk pasar di sebelah timur. Setiap Gio datang, saya-lah biasanya yang diminta nenek untuk mengulurkan uang receh seratus rupiah. Dikumpulkannya uang-uang receh itu dengan telaten hingga terkumpul dalam jumlah ribuan. Bila mengingat itu terjadi belasan tahun silam, jumlah tersebut tentunya tidak kecil. Harga sekilo beras saat itu masih dikisaran limaratusan rupiah. Setelah berkeliling pasar, biasanya ia singgah di salah satu warung nasi yang ada di samping pintu masuk. Di sana ia membeli sepiring nasi dan segelas teh untuk sarapan. Satu lagi hal yang ganjil, meski pikirannya kurang waras, ia tak jarang menolak bila pemilik warung berkenan memberinya sarapan secara cuma-cuma. Ia bersikeras untuk membayar sarapannya itu. Ia hanya meminta duit dan bukan meminta sesuap nasi, begitu ia biasanya berkilah. Tak sedikit ibu-ibu di pasar yang menatapnya dengan pandangan iba, tapi ada juga yang memandangnya dengan jijik karena tubuhnya yang lusuh dan menebar bau tak sedap. Sejak merasa akrab dengan kehadirannya, kerap saya bertanya-tanya mengapa ia bernasib buruk seperti itu, terlahir dengan cacat tubuh dan sekaligus mental? Seperti apa rasanya menanggungkan hidup seperti yang dijalani oleh Gio itu? Dan kenapa hidup nampak berlaku begitu kejam pada seorang anak manusia?

*

Membicarakan problematika hidup sejatinya adalah seperti upaya mengurai benang kusut yang tak akan pernah tuntas sampai ajal keburu datang merenggut. Semenjak mitologi penciptaan Adam-Hawa diceritakan, sejak jabang bayi dilahirkan dari rahim seorang ibu, sejak itulah centang perenang benang-benang kehidupan mengulur dalam pola-pola tak beraturan yang dari hari ke hari akan kian kusut-masai.

(Tak salah kiranya bila Budha Gautama menyebut kehidupan sebagai “alam samsara”, juga Siti Jenar yang menyebutnya dengan terminologi “alam kematian”. Sementara Yesus mengatakan bahwa “kerajaannya tak berada di bumi”: sebuah ungkapan yang menyiratkan betapa kehidupan di muka bumi jauh dari kondisi yang diidealkan umat manusia.)

Maka bukan hal aneh bila seseorang tak pernah paham pada hal-ikhwal nasib yang menimpanya sebab memang kekusutan benang-benang kehidupannya berkembang melampaui kemampuan nalarnya untuk mengurainya. Tak ada satu pun manusia yang mampu memahami kehidupannya sendiri; selalu tersisa lubang hitam menganga yang tak pernah habis untuk dimengerti. Inilah barangkali yang disebut sebagai “Misteri Eksistensi”. Tapi untungnya, dalam menjalani kehidupan orang tak harus memahami hakikat eksistensinya –biarpun notabene ia dikaruniai kemampuan nalar oleh alam.

Dan sebab itulah, mungkin, orang seperti Gio tetap menjalani hari-harinya dengan tabah meski ia sendiri tak pernah bersentuhan dengan pemikiran eksistensial karena akalnya yang kurang waras, dan juga tak pernah menyaksikan riuhnya warna-warni kehidupan dengan matanya.

Atau jangan-jangan memikirkan hakikat eksistensi justru akan menggiring manusia pada kesenyapan hidup dan keterasingan akut seperti umumnya dialami para filsuf. Siapa tahu?!

Hidup untuk dijalani, bukan dipikirkan –sebuah ungkapan satir namun tak begitu salah kiranya...[]

feb 2009

wardi

- satu-satunya perjudian yang halal adalah hidup itu sendiri

Wajahnya tirus dengan kulit hitam dan seperti nyaris berkeriput. Perawakannya kecil dan pendek. Usianya sekitar 35 tahun. Belum tua benar, memang. Namun beban hidup yang menggunung di punggungnya telah merenggut tubuhnya hingga membuatnya mirip orang yang telah berusia kepala empat atau bahkan lima. Saya mengenalnya sejak kecil. Kebetulan ia adalah tetangga dekat rumah. Wardi, begitulah ia biasa dipanggil.

Malam itu saya, bersama beberapa anak muda lainnya, bercengkrama dengannya di gardu siskamling di salah satu perempatan jalan desa kami. Ia mengutarakan niatnya untuk merantau ke Pulau Bali dalam waktu dekat ini. “Nyari duit gede,” katanya memberi alasan, “bosan terus-terusan jadi kuli bangunan dan buruh tani. Tak ada hasil berlebih, sementara harga sembako makin tak terbeli.” Sebagai anak sulung dengan enam orang adik yang kebanyakan masih berusia remaja, juga kedua orangtuanya yang telah berusia lanjut, Wardi adalah tumpuan utama ekonomi keluarga. Sejak umur belasan tahun ia jalani hari-harinya sebagai buruh tani, kadang juga menjadi kuli bangunan bila ada tukang-tukang bangunan yang mengajaknya turut serta dalam pekerjaan mereka. Sebagai tulang punggung keluarga, ia tak bisa pilih-pilih pekerjaan. Kerja apapun asalkan halal dan menghasilkan uang, ungkapnya. Mungkin juga itu sebabnya, di usia yang telah kepala tiga, ia belum juga menikah. “Boro-boro mau nikah, nyari duit buat menyambung hidup keluarga sendiri saja masih susah,” keluhnya suatu hari saat dicecar pertanyaan para tetangga. Dalam adat kehidupan desa kami, lelaki yang telah lewat 30 tahun dan masih melajang akan dikatai sebagai “bujang lapuk”, sementara perempuannya akan disebut “pratu” alias perawan tua.

Setahu saya, limabelas tahun silam Wardi pernah mengadu nasib di tanah Papua. Tak kurang lima tahun ia bekerja di propinsi paling timur itu. Mula-mula bekerja sebagai buruh di toko bangunan milik seorang pendatang asal Surabaya di salah satu sudut kota Jayapura. Belakangan hari, karena tergiur uang yang lebih besar, ia ikut-ikutan mendulang emas di daerah Timika. Waktu itu sedang tren “penambangan liar” oleh masyarakat. Seturut penuturannya, ia dan ribuan orang lainnya, baik pribumi maupun pendatang, mengais sisa-sisa emas di sungai yang dijadikan tempat pembuangan limbah cair (tailing) Freeport (PT. Freeport-McMoran Indonesia). Hasilnya lumayan waktu itu, tuturnya. Sebulan ia bisa mengumpulkan uang antara limaratus ribu hingga sejuta rupiah. Uang senilai itu tergolong besar mengingat nilai satu dolar saat itu masih di kisaran duaribuan rupiah. Kira-kira setara dengan dua-tiga kali lipat gaji pegawai negeri rendahan waktu itu. Dengan untung yang diraup sebesar itu, serasa ia tak perlu menaruh iri-hati pada keberadaan Freeport, meski perusahaan tambang emas dan tembaga terbesar di dunia itu “menyerobot” tak kurang tiga juta hektar kawasan pegunungan Erstberg dan Garsberg di Mimika untuk dijadikan daerah konsesinya, dan setiap tahunnya puluhan miliar dolar mengalir deras ke pundi-pundi bangsa Amerika. Sebagai orang kampung yang hanya mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar, orang-orang seperti Wardi cukup puas dengan hasil peluhnya sendiri, yang mungkin “tak seberapa” itu, dan tak perlu tahu bahwa orang-orang dari negeri asing nun jauh mendapat hasil beribu-ribu kali lipat sembari meninggalkan kerusakan lingkungan yang parah dan juga menyulut konflik sosial akibat luka ketidakadilan yang menyayat sanubari jutaan warga pribumi Papua (dan Jakarta, selaku pemberi ijin konsesi Freeport, alih-alih memperbaiki keadaan, justru mengirim berbatalion-batalion serdadu untuk "menjaga keamanan" Freeport dari “ancaman” pribumi).

Saya jadi teringat ungkapan satir Minke, sang tokoh utama roman Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer, tepatnya di sekuel ketiga, Jejak Langkah, yang kurang-lebih demikian: “berbahagialah mereka yang tidak mengetahui (praktek ketidakadilan)”. Syahdan, di sekuel Jejak Langkah yang berlatar-waktu awal abad keduapuluh itu, Minke merasakan begitu amat beratnya beban kewajiban yang ditimpakan di punggungnya untuk membangunkan sebangsanya dari tidur-nyeyak kebodohan yang melanggengkan penghisapan dan penistaan kolonial Belanda atas pribumi Hindia. Hanya mereka yang tak menyadari bahwa sesuatu yang terjadi di depan wajahnya adalah sebuah ketidakadilan sajalah, yang bisa hidup tenang meski dalam kemiskinan akut sekalipun. Dan orang-orang seperti Wardi mungkin masuk di dalamnya. Yang Wardi tahu dan diimaninya bulat-bulat, seperti pernah dituturkannya suatu hari, nasib manusia telah “ditulis” di lembaran-lembaran Lauhul Mahfudz. Dan hanya Tuhan sajalah yang tahu. Manusia hanya bisa menerka, mereka-reka, meraba-raba, dengan usaha semampunya. “Hidup tak bedanya perjudian. Kita hanya mempertaruhkan nasib dengan ikhtiar, dan tak pernah tahu apa bakal terjadi,” katanya. Dan setahunya, hasil mendulang untung di Papua itu sudah berlipat-lipat besarnya dibanding uang yang bisa ia peroleh di kampung halaman sendiri. Dan sudah barangtentu ia bersyukur untuk semua itu.

Lima tahun mengadu peruntungan di bumi Papua itu memang membuat kehidupan ia dan keluarganya relatif membaik. Tapi itu tak berlangsung lama. Tipikal khas kebanyakan orang desa apabila mendapatkan rejeki berlimpah adalah “kagetan”. Maksudnya, mereka tak begitu pandai mengelola uang. Uang dalam jumlah berlimpah ruah pun tak akan bertahan lama karena akan segera dibelanjakan barang-barang yang sesungguhnya tak begitu mereka perlukan. Jarang terbersit di benak untuk menginvestasikan uangnya, entah dibelikan hewan ternak ataupun ditabung guna berjaga-jaga untuk kebutuhan di hari depan. Dan ironisnya, jarang pula orang desa yang punya keterampilan berlebih untuk memulai suatu usaha di berbagai bidang, termasuk perniagaan. Kebanyakan mereka hanya hidup sebagai buruh tani, turun-temurun. Alhasil, rejeki yang dibawa pulang Wardi dari Papua itupun kini hanya menyisakan bangunan gedong 5x7 meter rumahnya yang sebelumnya hanya rumah gedek. Setahun-dua berselang sejak kepulangannya dari Papua, kesulitan ekonomi kembali mendera ia sekeluarga. Ia harus kembali menjadi buruh, baik buruh tani maupun buruh bangunan, untuk mengepulkan asap dapur keluarganya.

Dan sungguh saya tak menyadari, tak terlintas barang sekilas pun dalam benak, persuaan dengan Wardi di gardu siskamling malam itu ternyata adalah perjumpaan untuk terakhir kalinya. Beberapa saat lalu, seorang kawan di desa mengabari bahwa Wardi terseret arus sungai saat hendak berangkat menuju ladangnya yang terletak di seberang Sungai Mayang. Pagi itu, rakit-kerek yang ia pergunakan untuk menyeberang bersama tiga orang lainnya terbalik. Dua orang berhasil diselamatkan, sedangkan Wardi beserta seorang lainnya ditemukan telah menjadi jenasah keesokan harinya. Musim penghujan memang telah membuat air sungai selebar duapuluhan meter itu meluap, dan hanya rakit-kerek yang menjadi tumpuan orang-orang yang hendak berladang dan mencari rumput di tanah perladangan di seberang sungai. Dan di atas rakit penyeberangan itulah hidup Wardi dipertaruhkan—dan ia kalah. Juga ia kalah sebelum mencoba peruntungan di Pulau Dewata seperti yang ia rencanakan sebelumnya.

Manusia memang tak pernah tahu bagaimana hasil dari tiap usahanya, tak pernah tahu apa yang bakal terjadi dalam hidupnya, tak pernah tahu akan seperti apakah wujud dari segala rencana yang ia bikin, juga tak pernah tahu kapan maut datang menyergap.

Terngiang kembali ucapan Wardi: Hidup tak bedanya perjudian. Kita hanya mempertaruhkan nasib dengan ikhtiar, dan tak pernah tahu apa bakal terjadi.

Mungkin hidup memang sebuah perjudian; perjudian yang halal..[]

januari 2009